Kenapa jadi dokter?

"Kenapa jadi dokter?"

It's a must-had-question in the first place, I think.
"Gak manusiawi banget sih. Perawat, deksis, atau ga dekbid aja pakenya shift shiftan loh. Ini kita 2 hari 1 malem ga berenti, yang bener aja!"
"Apaan jaga cuma dorong dorong bed. Ga dapet apa apa. Diajarin juga enggak. Hih!"
"Apa coba maksudnya, jawaban udah dari jurnal masih aja gak lulus!"
"Duh, belom ngadep, nasib gue gimana ini...."
"Lulus lama, masih nunggu ini itu, internship juga ngantri, maunya apa sih pemerintah"

Those are our must-had-complain in kamar koass. Capek. Lama. Ngerasa gak ada gunanya.

And in the very end, every complain that we did, will be returned back to that "Kenapa mau jadi dokter?" question.

My friend said "Biar bisa nolong orang, banyak pahalanya"
Well, you dont have to be a doctor to help people. Menjalani perjalanan yang menurut saya cukup menyebalkan dan menguras emosi.

Katanya kalo mau kaya gausah jadi dokter.
Katanya jadi dokter harus legowo.
Katanya dokter itu profesi mulia.

Kenyataannya, dokter juga manusia, butuh makan, butuh tidur, butuh punya kehidupan yang layak dan bahagia. Can't we?
Kenyataannya, dokter juga manusia, punya ego melindungi kepentingan diri sendiri. Can't we?
Kenyataannya, dokter juga manusia, bisa khilaf, bisa salah, bisa tamak, bisa serakah.
Kenyataannya, dokter bukan dewa kayak yang selama ini di ekspektasikan. Mengabdi sepenuh hati, tanpa ada harap kembali. Seolah olah kedudukan sosial sangat tinggi seperti berada dikayangan lalu jika melakukan kesalahan sedikit langsung diturunkan tahtanya yang bahkan bisa lebih rendah dari rakyat jelata.

Seandainya semua bisa menerima bahwa dokter juga manusia. Mungkin semuanya akan beda cerita. Mungkin proses ini bisa dijadikan lebih manusiawi.

Yet, we still have a very long journey and I still dont have the answer.

I...am still.. questioning myself. Ngapain gue disini? Kenapa mau jadi dokter?

Komentar

Postingan Populer